Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

CERITA PAGI | SUPIR UBER, ZAKAT DAN BERSYUKUR

 photo blog-IMG_8095_zps9o7ubgoz.jpg
“Ndra, gila sih. Sumpah ya aku belum cerita sama kamu!”

“Masa aku pernah cerita kan, waktu itu siang bolong aku pernah dinasihatin sama supir Uber. Dia bilang, zakat tuh ngga bakal bikin kita miskin. Supirnya bilang dia yakin banget Tuhan udah ngatur porsi rejeki masing-masing manusia.”

“Terus sampai di Pondok Indah Mall, aku kayak terenyuh kan.. Yaudah aku kasih 20 ribu tuh orang, Ndra.”

“Ntah kenapa aku kayak digampar banget! Malemnya gokil sih aku langsung dapet kerjaan baru. Padahal siangnya cuma ngasih 20rb. Gila sih Ndraaaa. Coba deh berapa kali lipat tuh rejekinya, aku sampe merinding.”

Cerita sahabat saya tadi pagi ibarat colekan saat saya sedang melamun di teras depan rumah sambil menggendong Aura tadi pagi. Oh iya ya, kapan ya terakhir saya zakat?

Saya langsung berniat untuk berzakat, karena 2-3 bulan terakhir ini saya kelupaan karena sibuk mengurus Aura. Duh payah deh! Tapi ada satu hal lagi yang mengingatkan saya hari ini. Sesuatu yang membekas setiap saya melamun, yaitu sebuah nasihat dari dokter yang membantu saya untuk melakukan proses bayi tabung.

Sembilan hari setelah saya operasi laparoskopi pada bulan Mei 2014, saya melakukan check up terakhir ke klinik dr. Devindran untuk memeriksa bekas jahitan yang melintang di atas perut saya. Selesai memeriksa, beliau mengajak ngobrol sambil bertanya-tanya sedikit tentang saya dan suami.

“Kalian agamanya apa?”

Lantas kami menjawab pertanyaan beliau.

“Kadang-kadang kita pergi ke masjid, gereja, kuil atau tempat beribadah, hanya meminta saja pada Tuhan. Oh please God give me this.. Please God give me that..

“Jarang sekali kita datang ke tempat ibadah hanya untuk bersyukur. Hanya berduduk diam, dan bersyukur dengan apa yang sudah kita dapatkan. God, thank you for everything,” kata dr. Devindran sambil mempraktekan cara orang berdoa.

Setelah itu, beliau menyudahkan konsultasinya. Kami pun berpamitan karena sore itu kami harus kembali ke Jakarta. Beliau mengingatkan kami untuk kembali konsultasi lagi dalam waktu 1-2 bulan.

Obrolan siang itu membekas seharian, lalu saya mengingat-ingat apa saja yang telah saya ‘minta’ selama ini. Benar juga ya, porsi saya meminta sesuatu lebih banyak dibandingkan dengan porsi saya bersyukur. Minta agar dikasih rejeki lebih, minta agar jadi sukses, minta agar dikasih momongan cepat-cepat.

Minta ini, minta itu.

Gak ada habisnya.

Tapi jarang banget saya fokus berdoa hanya untuk mengucap syukur saja. Hanya bersyukur, tanpa meminta. Sejak hari itu, saya dan suami mencoba berusaha untuk jadi orang yang lebih baik lagi. Kami mengucap syukur dengan apa yang ada di depan kami, mulai dari makanan, kehadiran orang terkasih, rejeki yang berlimpah, kesehatan, dan masih banyak lagi.

Bersyukur ternyata bukan hanya membuat kami lega, kami juga melatih diri untuk tidak selalu mengeluh terus-terusan (walaupun masih sering sih ngeluh gak penting hihihi).

Sudahkah kalian mengucap syukur hari ini? :)

 photo x-andra4_zps7f1083c1.jpg

Posting Komentar untuk "CERITA PAGI | SUPIR UBER, ZAKAT DAN BERSYUKUR"