Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

DR. HANDI SURYANA AND MY C-SECTION REVIEW

 photo DSCF3608_zpsktfa4ybl.jpgSaya merasa sangat beruntung bisa punya dokter kandungan atau obgyn yang bisa saya andalkan. Saya mendapat informasi tentang dr. Handi Suryana, Sp.OG dari dr. Devindran Muniandy – dokter yang membantu saya saat menjalani proses bayi tabung di Loh Guan Lye Specialist Centre, Penang, Malaysia. Dr. Dev sempat bilang sebagian besar pasien beliau yang berhasil dalam proses bayi tabung akhirnya melanjutkan konsultasi kehamilan ke dr. Handi. Begitu juga ketika suster dr. Devindran, Jennifer, bilang bahwa banyak pasien dr. Dev yang memberikan review yang baik tentang dr. Handi.

Awalnya saya ragu-ragu karena saya belum pernah mendengar nama dr. Handi Suryana, bagaimana track record-nya selama ini dan lokasi RS tempat dr. Handi praktek sangat jauh dari rumah kami. Keraguan saya muncul karena saya punya pengalaman buruk dengan beberapa obgyn terkenal di Jakarta. Balik lagi ke dr. Handi. Sekedar catatan, dr. Handi praktek di RS Pantai Indah Kapuk (RS PIK), RSPI Puri Indah dan RS Royal Taruma Daan Mogot. Saya cukup terbantu ketika saya googling tentang dr. Handi, saya menemukan artikel yang berisi positive review tentang dr. Handi (bisa baca disini).

Sepulang dari program bayi tabung di Penang, ntah apa yang Alam Semesta ingin katakan kepada kami, tiba-tiba kami mendengar kabar tentang jalan tol yang baru saja dibuka yaitu Jalan Tol Lingkar Luar Barat. Artinya kalau dari daerah rumah kami di Cilandak, tinggal lurus aja untuk sampai ke PIK dan hanya memakan waktu sekitar 30 menit saja tanpa kena macet!

Akhirnya di usia kehamilan 6 minggu, saya melakukan konsultasi pertama saya dengan dr. Handi di RS PIK, tentunya ditemani suami saya, Abenk.

Kenapa kami memilih RS PIK?

Jawabannya simpel saja kok. Karena kami bisa sekalian wisata kuliner hahaha!

Sambil menunggu giliran, saya deg-degan tapi pasrah dan terus berdoa. Semoga saja dr. Handi bukan obgyn yang menyebalkan, mata duitan alias komersil banget atau tipe dokter yang selalu menyudahi konsultasi cepat-cepat seperti obgyn-obgyn yang pernah saya temui sebelumnya.

Saat konsultasi pertama, saya cukup suka dengan cara dr. Handi mendengarkan cerita kami dari awal perjuangan kami hingga akhirnya saya bisa hamil. Kami menjelaskan soal bagaimana kami bisa jauh-jauh datang konsultasi ke dr. Handi – yang semuanya itu berkat rekomendasi dr. Devindran.

Kesan pertama yang juga saya dapat tentang dr. Handi, beliau ramah, informatif, communication skill-nya sangat baik dan yang pasti he’s a good listener (ini penting sekali loh). Sebelum keluar dari ruangan praktek dr. Handi, beliau memberikan kartu nama yang berisikan jadwal praktek dan nomor yang bisa dihubungi jika ada sesuatu yang ingin ditanyakan.

Dr. Handi juga bertanya, “Ada pertanyaan lagi?” – yang menjadi pertanyaan/kalimat favorit saya karena selalu membuat saya lega dan puas di setiap pertemuan saya dengan dr. Handi.

 photo photo1_zps4bd3471d.jpg
Hasil konsultasi kedua kami dengan dr. Handi

Siang itu, saya dan suami pulang ke rumah dengan perasaan tenang, kami juga setuju untuk mencoba konsultasi lagi dengan dr. Handi di bulan berikutnya. Pertemuan-pertemuan berikutnya sangat memuaskan. Di usia kandungan dua bulan, dr. Handi sudah menebak jenis kelamin bayi kami dan 100% benar!

Kami juga selalu pulang tanpa pertanyaan dan perasaan yang mengganjal di hati. Memasuki trimester kedua, saya mulai banyak keluhan dan setiap saya Whatsaap atau menelfon dr. Handi, responnya sangat cepat dan lagi-lagi melegakan.

Suatu hari saya meminta dr. Handi untuk membaca blog saya soal kisah perjuangan saya untuk mendapatkan buah hati. Lalu apa tanggapan dr. Handi? Dengan manisnya, dr. Handi berjanji akan membantu kami agar cerita kami berakhir happy ending :)

Aww, that's very sweet!

Lewat konsultasi berikutnya, dr. Handi terlihat lebih berhati-hati saat memeriksa kandungan saya. Dr. Handi juga menyarankan agar sebaiknya saya c-section karena saya sudah susah payah untuk hamil. Bukannya dr. Handi tidak pro persalinan normal, tapi dengan kasus seperti saya yang sudah pernah laparotomi dan bayi tabung, sebaiknya orang tua (dalam hal ini saya dan suami) tidak mengambil resiko. Singkat cerita, kami akhirnya memang harus c-section karena posisi bayi kami yang sungsang dan terlilit tali pusat.

Saat kami mengetahui bahwa bayi kami terlilit tali pusat, dr. Handi langsung jaga-jaga dengan menawarkan kami untuk suntik pematangan paru-paru selama 3 hari berturut-turut. Suntiknya buat apa? Buat jaga-jaga kalau (amit-amit) bayi kami tercekik tali pusatnya sendiri dan harus dilahirkan sebelum cukup bulan. Kami menyetujuinya, tapi satu hal yang saya ngga setuju.. Sakit banget disuntik di pantat!!! HAHAHA.. Suntik di pantat jauh lebih sakit dibanding suntik di tulang punggung waktu c-section ternyata!

Dr. Handi juga selalu menenangkan kami dengan cara menjelaskan segala kondisi yang sedang saya alami secara detail. Ini yang saya suka dari cara komunikasi dr. Handi, semua dijelaskan dengan baik dan detail. Sehingga kami selalu pulang dengan tenang dan tidak mudah panik saat terjadi sesuatu.

 photo DSCF3607_zpsjqsrcmao.jpg

Saat hari persalinan tiba, semuanya berjalan lancar dan saya tidak merasakan sakit seperti yang saya bayangkan. Hari pertama paska operasi, saya tidak pegang ponsel sama sekali. Esoknya pas saya lihat, ternyata dr. Handi bertanya tentang keadaan saya via Whatsapp. Perhatian sekali ya, pikir saya. Lalu setiap 2 jam sekali, suster selalu bertanya tentang kondisi saya.

“Ada keluhan, Bu?”

“Ngga ada kok sus.”

“Soalnya dr. Handi nanyain terus, Bu. Nelfonin kesini. Dr. Handi mah baik. Perhatian. Beda sama dokter lain.”

Keluarga dan tamu-tamu yang menengok saya juga terkagum-kagum karena di hari ketiga paska operasi, saya sudah bergerak dengan lincah. Berdiri, duduk, jongkok. Pokoknya ngga kayak orang habis operasi. Di hari kelima paska operasi, saya juga menyetir mobil karena ada keperluan mendadak. Besoknya saya Whatsapp dr. Handi, memberitahu bahwa hasil kerja dr. Handi canggih banget! Masa pasiennya habis operasi vertical c-section bisa nyetir hahaha. Saya tanya-tanya soal betapa hebatnya dr. Handi, ternyata banyak yang bilang kalau c-section dengan dr. Handi memang gak sakit.

Saya juga sering merekomendasikan dr. Handi ke pasien-pasien dr. Devindran yang sering menghubungi saya via e-mail. Saya juga bilang bahwa worth it banget kok datang jauh-jauh ke dr. Handi.

Untuk kepuasan saya terhadap RS PIK sendiri juga sangat besar. Ntah kenapa saya dan suami selalu merasa seperti sedang berobat di Singapore atau Malaysia jika sedang di RS PIK. Rumah sakitnya bersih, terang, energinya ramah dan positif jika dibandingkan dengan rumah sakit lain yang pernah saya temui. Soal harga juga lebih murah jika dibandingkan beberapa rumah sakit di daerah Jakarta Selatan. Hingga saat ini saya masih bolak-balik ke RS PIK untuk konsultasi dan imunisasi untuk anak kami.

Saya menulis ini karena saya tau banyak teman-teman yang di luar sana mungkin sudah selesai program bayi tabung dengan dr. Devindran, tapi masih bingung mau konsultasi ke dokter siapa di Jakarta. Walaupun mungkin sudah dapat rekomendasi dari dr. Devindran untuk datang ke dr. Handi, rasanya pasti belum afdol kalau belum baca review dari pasien dr. Handi langsung kan? :)

I hope this is useful to all of us!

 photo x-andra4_zps7f1083c1.jpg

Posting Komentar untuk "DR. HANDI SURYANA AND MY C-SECTION REVIEW"